Direktur Qalama Institut NTB yang juga Presidium Komunitas Bela Indonesia (KBI) NTB, Ahmad Jumaely (baju putih) saat memandu acara diskusi kemah keberagaman

Lombok Tengah – Semakin mengemukanya sikap intoleransi, berita hoax dan politik identitas bernuansa suku, agama, ras dan antar golongan, terutama selama gelaran Pemilihan Umum 2019 menjadi ancaman serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kondisi tersebut mengundang keprihatinan banyak kalangan dan tokoh bangsa, termasuk aktivis, tokoh agama dan pemuda yang tergabung dalam Komunitas Bela Indonesia (KBI) Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan menggelar acara kemah keberagaman bagi anak muda milenial.

“Kemah keberagaman, dengan mempertemukan anak muda milenial lintas agama dan latar beragam dalam bentuk perjumpaan, selain bisa membangun silaturrahmi, juga memperkuat rasa persaudaraan dan persatuan” kata Ketua Presidium NTB, Ahmad Jumaely, Sabtu (2/3/2019).

Memperbanyak perjumpaan, berdiskusi, bertukar pandangan dengan latar berbeda, juga bisa semakin menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai perbedaan.

Bahwa perbedaan itu sebagai Rahmat, bukan menjadi hal yang harus dipertentangkan, karena memang bangsa Indonesia memang sudah beragam dan dipersatukan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

“Dalam Islam juga diajarkan, agar setiap manusia senantiasa menjaga uhuwah Islamiyyah, wathaniyah dan uhuwah Basyariah dan Rasulullah sudah mempraktikkan hal tersebut, bagaimana menghargai meski beda agama, keyakinan dan budaya” kata Jumaely

Bahkan, mengutip salah satu hadits Nabi Muhammad SAW, kata Jumaely ‘barang siapa yang membunuh orang lain, termasuk non muslim, tanpa alasan jelas yang telah dilindungi negara, maka orang bersangkutan tidak akan mencium bau sorga.

Koordinator KBI NTB, Turmuzi menambahkan, sekarang ini banyak ditemukan orang mengaku dan mengatasnamakan agama, tapi perilaku ditampilkan dalam tindakan keseharian seringkali tidak berkeseauaian

“Mengaku beragama, tapi sikap dan tindakan seperti orang beragama, melakukan kekerasan, menebar fitnah dan ujaran kebencian, padahal dengan beragama bisa menjadi seseorang bisa lebih banyak menebar kesejukan dan perdamaian” katanya

Kemah keberagaman yang diselenggarakan KBI NTB, sejatinya hadir sebagai komunitas yang bisa menaungi semua, dengan cita – cita bersama membumikan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama.

Turmuzi pun menegaskan, bahwa semangat yang ingin ditampilkan KBI NTB, bagaimana melalui kemah keberagaman dilaksanakan, generasi milenial bisa memiliki perspektif baru tentang pentingnya menjaga keberagaman, tidak anti Pancasila, NKRI dan menjadi bagian yang ikut menyebarkan pesan kebaikan kepada masyarakat.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda, Desa Durian, Kabupaten Lombok Tengah mengatakan, sebagai lembaga pendidikan yang terbuka dan selama kegiatan dilaksanakan bermanfaat untuk kebaikan, agama , nusa dan bangsa, pihaknya siap mendukung setiap kegiatan dilaksanakan masyarakat, termasuk kemah keberagaman oleh KBI NTB.

Dia juga meminta kepada peserta kemah, terutama yang non muslim, agar tidak merasa risih, karena pihak Ponpes sangat menghargai perbedaan, karena memang semua manusia adalah bersaudara dan tidak pernah melakukan dikotomi berbau Sara

“Keberagaman adalah modal, tanpa menghargai keberagaman kita tidak akan pernah bisa besar, keberagaman ini akan menjadi subur, kalau sudah bersama akan, apapun tantangan dihadapi masyarakat, tetap akan menjadi kuat” katanya