Ketara, Dutalombok.com, Ribut-ribut soal perubahan nama Bandara Internasional Lombok, Mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (DPRD) NTB Lalu Aksar Ansori membagikan kembali tulisan yang ia tulis pada 10 september 2018 lalu. Judul tulisan itu, “Terminal Burung Besi”.

Tulisan ini mirip curahan hati dari masyarakat lingkar bandara. Lalu Aksar menuliskan sejumput kisah pahit awal tanah bandara bermula.

Berikut ini Tulisan lengkapnya

Terminal Burung Besi

Walaupun saya punya pendapat tentang terminal ini, saya lebih baik diam saja.. Apa gunanya saat ini.. Tahu nggak, keluarga saya punya tanah puluhan hektar di tempat terminal saat ini. Almarhum ayah saya malah membagi-bagikan tanah-tanah tersebut kepada saudara-saudaranya, memilih bertani di wilayah barat desa. Tersisa 60 are, menempel di pagar kawat sebelah utara. Almarhum menghadiahkan 60 are tersebut kepada 3 kakak perempuan saya.. Kami yang laki-laki kok ngga dikasih? Ngga perlu dipertanyakan keputusan yang diambil tersebut.

Sekitar tahun berapa ya Warsito jadi Gubernur NTB? Waktu itu di tahun yang saya lupa, Drs Haji Lalu Srigede datang ke kantor desa saya untuk menyelesaikan pembebasan tanah yang saat ini jadi terminal burung besi.. Saya hadir disuruh mewakili keluarga, tapi saya tidak boleh masuk krn saya tidak punya bukti kepemilikan tanah tersebut.. Saya melihat ada beberapa yang ditangkap, karena melawan kebijakan pembebasan tanah.. Saya juga melihat, tanah-tanah yang kini jadi terminal diukur-ukur. Belakangan saya tahu, harga per hektarnya cuman Rp. 20 juta.. Silahkan hitung sendiri harga per meter atau per arenya. Yang pasti sangat murah, dulu dan hingga kini saya masih menganggap itu perampasan hak walaupun kemudian semua (atau sebagian) telah menerima pembayarannya..

Tahukah kawan, ada monumen Bumi Gora di Jalan Udayana? Apa hubungannya terminal pesawat terbang ini dengan monunen ini? Pada era Soeharto dan Gubernur Gatot Suherman, NTB sukses dengan program Swasebada Beras dengan sistem tanam yang disebut GOGO RANCAH dengan varietas padi IR36 temuan IPB Bogor. Waktu saya SD, Bendungan Batujai dibangun dan diresmikan langsung Presdiden Soeharto. Saya dianatara barisan anak-anak sekolah yang berjalan kaki 5 kilometer ke tempat peresmian, kami berjejer berbaris melambaikan bendera Merah Putih menyambut kedatangan Bapak Presdiden.. Bapak Presdiden juga berkenan melalukan panen raya padi Gogo Rancah, persis di lokasi terminal pesawat saat ini dan juga di Desa Turuai.. Budidaya belut di kampung-kampung dan di semua sekolah juga digalakkan.. Itulah hubungannya Monumen Bumi Gora Jl Udayana dengan terminal pesawat.. Bahkan jauh sebelum sistem GOGO RANCAH digalakkan, ada rumah di belakang SD saya ditempati oleh peneliti IPB yang sedang riset. Ada yang saya ingat namanya : Juara Lubis, karena sempat saya antar menemui narasumber (antara lain H Lalu Kiran, H Lalu Ambawe/budayawan yang rumanya berdampingan dengan SD tempat saya sekolah).

Di era Lalu Srinate jadi Gubernur NTB dan Miq Ngoh (Lalu Wiratmaje) jadi Bupati lombok Tengah dimulai groundbreaking pembangunan terminal pesawat, bersama Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. Tantangannya sangat besar. Seperti yang saya sampaikan di awal, masyarakat sebenarnya tidak rela melepaskan tanahnya apalagi dipaksa untuk dijual dengan harga yang sangat murah. Apalagi juga, masyarakat sedang berjaya dengan komoditi baru yang namanya semangka. Masyarakat menjadi kaya karena menanam semangka, bukan karena menjual tanah. Bahkan ada juga yang kaya raya dengan menanam tembakau. Panjanglah ceritanya soal ini. Saya sendiri berada di dua kubu, yang pro dan kontra. Karena saya tidak ingin saling bunuh dan terpecah belah gara-gara pro dan kontra. Soal pro dan kontra ini juga sebenarnya bukan setuju atau tidak setuju, tapi soal siapa yang berpihak pada pemerintah atau berhadap-hadapan dengan pemerintah.. Siapa sih yang setuju dengan harga tanah yang murah?

Tapi akhirnya masyarakat menerima dan mendukung pembangunan terminal, yang gencar sejak era Lalu Srinate hingga TGB..

Yaaah.. Mudah2an janji-janji pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat lingkar terminal burung besi ini segera terwujud, karena sampai sekarang belum terwujud..

Dendek begejuh semeton sanaq jari.. Cup juluk.. Mari duduk bersama untuk membicarakan sebaik-baiknya.. Yang prioritas adalah kesejahteraan masyarakat lingkar bandara.