Janapria, Dutalombok.com, Banyaknya suara pemilih yang batal karena model lipatan kertas suara pada Pemilihan Kepala Desa (Pildes) Serentak 2018 di Janapria ternyata tidak hanya terjadi di Desa Durian. Sejumlah desa lain seperti Bakan, Selebung, Lekor dan Janapria juga mengalami hal serupa.

Cakades Desa Bakan H. Radiah, S. Pd saat ditemui Duta Lombok mengatakan, dibanding Desa Durian, Desa Bakan lebih parah. Di desa tersebut terdapat 1152 surat suara yang dianulir dan dianggap batal.

Sama seperti kasus di Durian, 1152 surat suara yang batal tersebut disebabkan para pemilih mencoblos kertas suara hingga tembus gambar KPU, dan cara mencoblos seperti ini oleh DPMD dianggap tidak sah.

H. Radiah mengeluhkan tidak adanya sosialisasi yang dilakukan Panitia Pildes, baik kepada anggotanya sendiri, kepada KPPS apalagi kepada pemilih.

“Ketua panitianya tidak pernah sosialisasi, bahkan untuk anggota-anggotanya sendiri, apalagi untuk KPPS dan pemilih” Ungkapnya

Parahnya lagi, anggota dan ketua Pildes ternyata berbeda pendapat soal sah-tidaknya surat suara disaat-saat penghitungan suara sedang berlangsung.

“Terjadi di hampir semua TPS, ketua Panitia dan anggotanya berbeda pendapat soal sah dan tidak sah, akhirnya penghitungan sudah selesai, kertas suara sudah masuk kotak, eh dibuka lagi dan dilakukan penghitungan ulang” Jelasnya.

Hal yang sama diakui Cakades Bakan yang lain H. Abdul Kahar, SE. Ia menginformasikan, sebab tidak adanya sosialisasi ini, Pildes Bakan belum jelas akhirnya, pelaksanaan Pildes Ore Gade berikut Panitia dan Anggota-anggotanya.

“Ketua dan Anggota Panitia Pildes berseteru, sekarang katanya sudah pleno tapi para anggotanya tidak mau tanda tangan” tandasnya.